Gadgedin – Bagi sebagian orang, pulang kerja berarti waktunya beristirahat. Namun, kebiasaan itu tampaknya tidak mudah dilakukan oleh Jensen Huang, CEO NVIDIA. Bahkan ketika sedang menonton film, pikirannya masih berkutat pada pekerjaan.
Dalam sebuah wawancara bersama Patrick Collison, CEO Stripe, Huang bercerita bahwa pekerjaannya terus memenuhi pikirannya sejak bangun tidur hingga kembali terlelap.
“Saya bekerja dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ketika tidak bekerja, saya memikirkan pekerjaan,” ungkap Huang.
Ia juga mengaku pernah duduk menonton film tanpa benar-benar mengingat jalan ceritanya karena pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Pengakuan tersebut memperlihatkan betapa sulitnya memisahkan waktu kerja dari kehidupan pribadi bagi seorang pemimpin perusahaan teknologi.
Ketika Pekerjaan Terus Mengikuti Sampai Waktu Istirahat
Bagi Huang, memikirkan pekerjaan tidak selalu berarti sedang menyelesaikan tugas. Ia juga menghabiskan waktu untuk membayangkan kemungkinan baru, merancang strategi, dan memikirkan arah perkembangan NVIDIA.
“Saya duduk menonton film, tapi tidak ingat apa pun tentang film itu. Karena saya sibuk berpikir tentang pekerjaan,” katanya.
Kebiasaan terus memikirkan pekerjaan memang bisa muncul ketika seseorang sangat menikmati profesinya atau memikul tanggung jawab besar. Namun, ada perbedaan antara memikirkan ide sesekali dan merasa tidak pernah benar-benar bisa berhenti bekerja.
Dalam konteks kesehatan, kondisi ketika pikiran terus terseret ke urusan pekerjaan dapat mengganggu waktu pemulihan, terutama jika disertai stres berkepanjangan, kesulitan tidur, atau kelelahan. Meski begitu, kebiasaan Huang yang diceritakan dalam wawancara saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia mengalami gangguan kesehatan mental tertentu.
Ambisi Besar Jensen Huang di Balik Perkembangan AI
Huang juga menganggap membayangkan masa depan sebagai bagian dari pekerjaannya. Ia kerap memikirkan berbagai kemungkinan teknologi yang dapat dikembangkan NVIDIA, terutama di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kadang saya membayangkan masa depan. Dan, wah, bagaimana kalau kita bisa melakukan ini dan itu. Itu juga bekerja, saya sedang bermimpi,” jelasnya.
Cara berpikir tersebut sejalan dengan ambisi NVIDIA untuk memperluas perannya dalam industri AI. Perusahaan ini mengembangkan GPU dan teknologi komputasi yang digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk gaming, pusat data, serta pelatihan model kecerdasan buatan.
Namun, dorongan untuk terus mengejar target perlu dibarengi kemampuan memulihkan energi. Otak tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, sekalipun seseorang sangat mencintai pekerjaannya.
Jensen Huang
Produktif Boleh, tetapi Jangan Abaikan Sinyal Tubuh
Kisah Jensen Huang bisa menjadi gambaran tentang tingginya dedikasi seorang pemimpin terhadap pekerjaannya. Meski demikian, pola kerja seperti itu tidak harus dijadikan standar kesuksesan bagi semua orang.
Memberi jeda setelah bekerja, menjaga waktu tidur, melakukan aktivitas di luar pekerjaan, dan membatasi komunikasi kantor di luar jam kerja dapat membantu menciptakan rutinitas yang lebih sehat.
Jika pikiran tentang pekerjaan terus mengganggu tidur, memicu kecemasan, atau membuat aktivitas sehari-hari terasa berat, ada baiknya mengevaluasi beban kerja dan mencari bantuan profesional bila diperlukan.
Ambisi memang bisa mendorong seseorang mencapai hal besar. Namun, menjaga kesehatan juga merupakan bagian penting dari perjalanan panjang tersebut. Sebab, produktivitas bukan hanya soal seberapa lama seseorang bekerja, tetapi juga bagaimana ia menjaga dirinya agar tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari.



